Monitorjabar.co.id – Sejarah politik Kabupaten Bekasi kembali menghadirkan cerita yang mengingatkan publik pada masa lalu. dr. Asep Surya Atmaja resmi dilantik sebagai Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2025–2030 oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Gedung Pakuan, Bandung, Jumat (23/10/2026).
Pelantikan Asep bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan daerah. Di balik jabatan tersebut, terdapat kisah yang mengingatkan pada perjalanan sang kakak, almarhum Eka Supria Atmaja, yang pernah memimpin Kabupaten Bekasi pada periode 2019–2021. Asep sendiri merupakan adik kandung Eka.
Dua bersaudara, dua momentum pergantian kepemimpinan
Eka Supria Atmaja menjadi Bupati Bekasi setelah menggantikan Neneng Hasanah Yasin yang terseret kasus korupsi. Namun, masa kepemimpinan Eka berakhir ketika ia meninggal dunia pada 11 Juli 2021 akibat COVID-19.
Kini, lima tahun berselang, nama keluarga Atmaja kembali berada di pucuk kepemimpinan Kabupaten Bekasi. Asep Surya Atmaja resmi menjadi bupati setelah pendahulunya, Ade Kuswara Kunang, diberhentikan dari jabatannya menyusul perkara korupsi yang menjeratnya.
Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan kemiripan dalam sejarah pergantian kepemimpinan daerah. Baik Eka maupun Asep sama-sama melanjutkan kepemimpinan Kabupaten Bekasi setelah bupati sebelumnya tersandung perkara hukum.
Meski demikian, kondisi yang mengiringi pergantian kepemimpinan keduanya berbeda. Eka kemudian wafat saat masih menjabat, sedangkan Asep kini menerima mandat untuk meneruskan sisa masa jabatan setelah pemberhentian Ade.
Tantangan besar menanti Asep
Dengan resminya Asep menjabat sebagai Bupati Bekasi, perhatian publik kini tertuju pada arah kepemimpinannya. Ia menghadapi tanggung jawab untuk menjaga jalannya pemerintahan, memastikan pelayanan publik tetap berjalan, serta memulihkan kepercayaan masyarakat di tengah dinamika politik yang terjadi.
Pengalaman Asep sebagai Wakil Bupati sebelum dilantik menjadi modal dalam melanjutkan roda pemerintahan. Namun, masyarakat tentu menantikan lebih dari sekadar pergantian figur di kursi kepala daerah.








